Pada blog yang berjudul Film dan
Ikhtiar Kesadaran Kolektif yang mengangkat tentang sebuah perfilm-an Indonesia,
khususnya didaerah Kendal memberikan kita sebuah pengetahuan dan pembelajaran, bahwasanya
merangkai sebuah alur cerita untuk mewujudkannya menjadi sebuah karya yang
menarik dan disukai oleh masyarakat indonesia khususnya para kaum muda tidaklah
mudah. Membutuhkan kesabaran, kegigihan serta kebersamaan yang baik untuk
mewujudkan sebuah karya yang menarik. Pada blog ini menceritakan tentang sebuah
kepahitan dalam menggarap sebuah film yang berjudul Reksa yang disutradarai oleh Mustofa, alumni dari SMK N 1 Kendal
keahlian di bidang broadcastinng mampu menyuguhkan film yang mengangkat dari
sebuah tradisi, sosial dan budaya dari daerah Kendal.
Keterbatasan yang sangat tebatas
saat pemutan film dengan ruang yang seadanya, ruang akustik, sound sistem dan
pencahayaan yang sangat minim sama sekali tidak menggagalkan niat pemutaran
film ini. Pada hal ini, bahwa segala kekurangan, ketidakpasan, ketidak sesuai
harapan yang di inginkan sama sekali tidak menggugurkan semangat untuk
memutarkan sebuah karya yang berdurasi kurang dari satu jam itu. Namun
antusiasme masyarakat khususnya kaum muda cukup baik dalam film ini,
dikarenakan anak muda zaman sekarang memang lebih menyukai suguhan yang berupa
film dari pada sebuah novel ataupun buku cerita, dikarenakan sebuah film itu
sangatlah mudah untuk dipahami dan bisa ditonton dalam keadaan yang sangat santai.
Perlu banyak pemikiran dan
otak-otak yang cerdas untuk membuat sebuah sinopsis cerita dan mengembangkannya
menjadi sebuah judul film yang mengesankan dan dapat diterima baik oleh banyak
orang. Dan perlu kerja keras tim untuk memberikan hasil yang maksimal untuk
penggarapan film itu sendiri. Dan dalam Film yang berjudul Reksa ini yang
disutradarai oleh Mustofa, alumni dari SMK N 1 Kendal keahlian dibidang
broadcasting mampu memberikan tontonan yang mampu memberikan motivasi dalam
bidang sosial, ekonomi dan budaya. Melalui tangan Mustofa, sineas yang baru
saja mendapatkan beasiswa di Jogja Film academy tersebut, mampu membuat film
ini benar-benar menjadi ikhtiar untuk mematik kesadaran kolektif masyarakat
terutama masyarakat kendal.
Alur yang menceritakan tentang
seorang anak yang bernama Reksa yang sama sekali tidak menginginkan ibunya
menjadi tenaga kerja di negara tetangga, Malaysia. Begitu juga denga ibunya
Reksa yang sebenarnya juga tidak menginginkan bekerja di Malaysia. Namun
berbeda dengan ayah reksa, sukri. Sukri yang tergoda melihat tetangganya sukses
dan hidupnya terpenuhi karena istri dari suami teman-temannya yang bekerja
diluar negeri. Setiap kali sukri mengantar anaknya menggunakan sepeda butut, ia
merasa malu dengan keadaannya. Berbeda dengan teman-temannya yang mengantarkan
anaknya menggunakan sepeda motor hasil dari kerja keras istri mereka.
Setelah kejadian tersebut, sukri
merasa iri dan naik pitam melihat teman-temannya yang membawa motor saat
mengantarkan anaknya, akhirnya sukri memaksakan sum istrinya untuk bekerja
dinegeri tetangga untuk menjadi seorang TKW. Reksa sangat kehilangan sosok
ibunya semenjak ditinggal ibinya berangkat menjadi seorang TKW, reksa sangat
merindukan ibunya. Bagi reksa ibunya sama sekali tidak tergantikan.
RKFK berupaya untuk menumbuhkan
rasa kecintaan dan kepekaan terhadap segala sesuatu yang dimiliki oleh daerah
kita, karena jika bukan kita yang menjaga dan melestarikan kebudayaan dan adat
istiadat yang dipunyai daerah kita siapa lagi? Kita hanya perlu melestarikan,
menjaga dengan baik dan mencintai dengan sepenuh hati. Agar anak cucu kita
nanti dapat menggunak dan mengetahu apa yang dipunyai daerahnya sendiri, dan
mereka dapat berbangga menjadi bagian dari daerah itu.
Komentar
Posting Komentar